.
Bodohnya, dulu aku mengira menjadi anak perempuan satu-satunya itu menyenangkan. Rupanya aku salah besar, meskipun ga punya saudara sesama perempuan tapi aku tetap merasakan rasanya dibandingkan, dianggap bodoh, dianggap ga lebih baik dalam segala hal dengan saudara laki-laki. Kenyataan pahit yang sangat aku benci, tapi ga bisa dihindari. Ternyata memang benar, mau sebaik apapun kita jika bukan anak kesayangan tidak akan terlihat berharga. Aku berusaha untuk tidak membenci orang tuaku, walaupun yang mereka lakukan itu menyakitkan. Tapi diam dan sabarku, justru semakin menjadi bumerang. Mudah bagi mereka untuk mengatur, memaksa, bahkan menekan dari segala arah karena melihat aku tidak bisa apa-apa. Memang benar aku beban, tapi merawat anak yang diberikan Tuhan adalah tanggungjawab orang tua. Karena Tuhan menitipkan segala rejeki anak melalui orang tuanya. Tapi yang seharusnya aku dapatkan, aku tidak mendapatkannya secara penuh. Aku hanya dianggap sebagai anak yang tumbuh tidak sesu...