R E T A K
Seseorang pernah datang kepadaku, menjadi teman, sahabat, hingga menjadi tempat bercerita dari siang hingga malam. Namun kemudian seseorang itu pergi, ah bukan, aku yang menjauh, aku yang memilih untuk kehilangannya, karena menurutku sesuatu yang sudah habis masanya, tak perlu untuk terus dipaksa agar selalu ada. Seperti halnya air di lautan, kadang pasang dan kadang surut. Tapi yang menjadi pilihanku bukanlah menunggu diantara keduanya. Aku memilih selesai - memberikan akhir pada cerita yang belum selesai ku tulis.
Aku memang manusia penakut, sekali aku merasa sakit, aku tak akan mengulanginya. Tapi aku juga keras kepala, apa yang sudah ku jadikan keputusan, aku akan selalu mengambilnya. Entah harus kehilangan atau merasa kesepian sepanjang masa, bagiku itu lebih baik daripada menelan lebih banyak luka dan rasa sakit. Kepingan memori yang ada, sesekali masih timbul, tapi aku bisa apa? inilah keputusanku untuk selesai - artinya aku harus benar-benar move on.
Entah dalam episode keberapa, aku pernah menangis dan meraung, karena rasa sakit itu sangat luar biasa. Tapi di episode selanjutnya aku bisa tertawa lagi, tersenyum, kemudian menjalani hidup seperti biasa. Hingga kemudian aku sadar bahwa aku hanya perlu terbiasa, sendiri, tenang, berusaha menemukan hal lain yang lebih menarik daripada terbelenggu dalam luka dan rasa sakit. lagipula untuk apa aku terlalu lama menangis, jika seseorang yang pernah hadir itu meninggalkan luka lalu bahagia seperti biasa, seharusnya aku juga bisa kan?
Akulah korban sesungguhnya, aku tak berbuat salah, tapi aku yang menanggung luka itu sampai sekarang. Saat seseorang itu sudah bahagia aku masih sibuk merekatkan hati supaya utuh lagi, tak retak seperti terakhir kali aku memilih pergi.
Mustahil.
Komentar
Posting Komentar