Random Talk : Cukup Sekian
Fase mati rasa itu benar-benar ada, bukan lagi soal rasa benci yang tak kunjung reda. Bukan pula, perasaan patah hati yang tak kunjung sirna. Tapi tentang sebuah kehadiran yang tak lagi bermakna sama.
Tak dapat dimungkiri, kisah kita memang pernah ada. Seperti sejarah dalam buku cerita, tulisanku banyak memuat tentangmu, bahkan mungkin akan dibaca banyak orang, namun satu hal yang tidak akan pernah aku lakukan, yaitu menuliskan namamu. Biarlah mereka menerka, biarlah mereka bertanya-tanya, siapakah manusia beruntung yang selama ini ku abadikan dalam pena?
Tapi tuan, setidaknya anda janganlah berbangga diri. Sebab nama yang kurahasiakan selama ini, bukan untuk menyelamatkanmu dari rasa benci, tapi untuk menenangkan hatiku sendiri. Walaupun aku sudah berdamai dengan luka yang pernah ada, tapi aku sudah tak ingin menyebutkan namamu lagi. Karena nama itu akan membawaku kembali, pada masa yang sangat aku sesali. Masa yang tidak bisa ku hindari, juga masa yang tidak akan pernah bisa ku perbaiki.
Jika ada yang bertanya, apakah aku menyesal mengenalmu? tidak. Karena kehadiranmu sebagai luka dalam hidup, aku jadi belajar banyak hal, bagaimana menjadi kuat, tangguh, dan hebat. Lantas apakah sekarang aku membencimu? tidak. Masa-masa aku membencimu telah berlalu, kini aku sudah memaafkan, berdamai, tapi tidak untuk kembali menjadi diriku yang dulu. Berarti kemungkinan itu tidak akan pernah ada? iya. Sudah cukup apa yang pernah berlalu di antara kita, tak perlu diberikan kesempatan untuk kedua kalinya, sebab itu hanya akan mengulang rasa sakit yang sama.
Cukup sekian, kehadiranmu sudah bukan yang diharapkan. Jika sebelumnya aku mengira masih ada yang belum selesai di antara kita, kini aku yakin bahwa semuanya memang sudah selesai. Semesta sudah cukup menjagaku, tanpa adanya temu. Apa yang mungkin belum saling kita ucapkan, entah sekedar kata maaf atau basa-basi tentang perpisahan, biarlah itu menjadi rahasia semesta. Ada Tuhan yang mendengar, ada angin yang akan membisikkan, dan ada langit yang akan menampung segala pengharapan.
Aku kira, cukup sekian saja. Biarlah semesta yang bekerja sebagaimana mestinya.
Komentar
Posting Komentar