Avoidant Attachment : Tembok Siksaan
Avoidant Attachment itu nyiksa? menurutku iya. Karena pola keterikatan avoidant itu seperti kita membangun tembok yang tinggi supaya orang lain ga bisa akses jalan ke kita TANPA izin.
Avoidant itu bikin kita seolah-olah sedang main petak umpet, yang mana tidak hanya melibatkan diri sendiri tapi juga orang lain. Saat sisi avoidant ini ada kita cenderung menarik diri, shingga memancing orang lain untuk mencari kita. Padahal kita sengaja mundur untuk mengatur jarak, yang tentunya orang lain ga akan paham TANPA kita memberi tau. Akhirnya orang lain jadi bertanya-tanya dan bingung terhadap sesuatu yang terjadi. Tapi seorang Avoidant ga akan sadar akan hal ini. Kebingungan inilah yang sebenarnya menurutku merugikan, bahkan bagi seorang Avoidant itu sendiri.
Perlu diketahui bahwa pembatasan-pembatasan yang diciptakan oleh Avoidant, berasal dari rasa ketidakpercayaan. Avoidant itu sering overthinking, saat dia ngerasa terlalu dekat dengan seseorang, dia akan otomatis merasa telah terjadi kesalahan. Akhirnya Avoidant akan perlahan menjauh demi mengatur jarak, agar merasa lebih aman dan nyaman. Avoidant itu semakin dirangkul erat, akan semakin ingin lepas. Jadi polanya kalau mau bertahan lama dengan Avoidant kita harus punya skill tarik-ulur. Kalau semisal Avoidant mulai menjauh, biarin aja dulu. Kasih dia waktu untuk recharge energinya
Avoidant itu perlu ngerasa aman, kalau tembok yang dia bangun udah tinggi saat itulah dia akan ngerasa situasi udah kondusif. Nah kalau udah kondusif, dia akan mulai ngecek sekeliling, apa yang kurang? apa yang masih dia butuhin? dan ya dia akan berusaha mengoreksi diri sendiri untuk menemukan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Saat itulah mereka akan sadar kalau, sendiri bukan ketenangan yang abadi. Bukan kehidupan yang selamanya bisa mereka jalani. Avoidant tetap makhluk sosial, mereka butuh orang lain.
Kenapa di awal aku bilang Avoidant nyiksa? karena mereka itu susah menjalin kedekatan yang intens, mereka perlu merasa kesepian dulu untuk menyadari bahwa mereka ga bisa selamanya menjauh dari sebuah hubungan. Dampaknya ke orang lain juga, orang lain akan kebingungan dengan pola yang diciptakan oleh Avoidant sendiri. Ketika Avoidant sadar bahwa dirinya Avoidant mereka akan mulai mempertanyakan, kenapa mereka bisa seperti itu? padahal jawabnya ada didalam diri mereka sendiri. Tapi seorang Avoidant tidak akan bisa menemukan jawaban itu, kalau tidak disadarkan oleh sekeliling. Akibatnya, Avoidant akan stress sendiri. Jadi ya, bisa dibilang Avoidant tidak hanya merugikan orang lain, tapi juga dirinya sendiri.
Tanpa disadari Avoidant itu memberikan peluang besar untuk dirinya kehilangan banyak hal, termasuk orang-orang yang care sama dia. Karena lama-lama siapa yang akan betah dengan si Avoidant yang dikit-dikit ngejauh, sulit diajak berkomitmen, bahkan seakan-akan ga butuh orang lain. Jadi ya, kalau mau bertahan sama Avoidant kita harus pinter-pinter atur strategi untuk bikin si Avoidant merobohkan temboknya sendiri dan berani untuk mulai membangun kepercayaan dan rasa aman saat menjalin kedekatan dengan orang lain.
Komentar
Posting Komentar