Aku Dilukai, Tapi Aku (juga) Melukai

Aku terlalu sering mendorong orang untuk menjauh, hanya karena aku memiliki luka yang tidak bisa ku bagi dengan siapapun. Luka-luka yang belum sembuh, membuatku banyak merasakan ketakutan, bahkan untuk hal-hal baru yang akan datang. Sesungguhnya aku tidak menolak kehadiran, aku hanya was-was terhadap apa yang akan datang. Segala kemungkinan, berupa rasa sakit atau luka baru, itulah yang paling aku khawatirkan. Aku ketakutan, atas pikiranku sendiri yang buntu. Aku selalu merasa terjebak dalam lingkaran gelap yang membuat diriku semakin ingin tenggelam. Terlalu banyak luka yang tergenggam, membuatku tidak punya keyakinan akan kasih sayang yang tulus untuk datang, tanpa membawa luka dan rasa yang baru. 

Aku dilukai, tapi aku juga melukai. Aku sadar akan hal ini, tapi lagi-lagi aku belum punya cara untuk mengatasinya. Kebingungan, ketakutan, bahkan kepaswaspadaan yang terlalu berlebihan adalah alasannya. Ketika aku memilih diam, aku dipaksa bicara. Tapi ketika aku bicara, tak ada satupun yang paham. Dari aku terdiam, hingga mulai bicara, kemudian berteriak kencang, apakah rasa sakit ini bisa mereka pahami? Tidak. Mereka justru menyerang balik, menjadikanku manusia paling bersalah, dan lagi-lagi luka baru kembali datang. Bukannya sembuh, lukaku makin bertumpuk bagai gunung yang siap meledak. Bukan hanya aku yang terluka, tapi mereka juga. Akhirnya aku menjadi korban sekaligus pelaku kan? dan sekali lagi aku dilukai tapi aku juga melukai. 

Komentar

Postingan Populer