Membaca Ulang Sebuah Buku

Bagai membaca lembar demi lembaran dalam sebuah buku, waktu yang sebenarnya lama namun terasa sangat singkat. Pertemuan dan perpisahan merupakan bagian yang erat, saat kita  bertemu dengan seseorang, kemungkinan untuk berpisah itu ada - entah karena takdir atau karena kita yang memutuskan untuk menjauh, melupakan, dan menulis ulang cerita yang kita inginkan. 

Waktu berlalu seperti sihir, kita mungkin merasakan bahwa perpisahan itu menyakitikan, tapi tanpa disadari kita juga berhasil melewatinya, bertumbuh, berkembang, dan berproses bersama luka, hingga nantinya kita berhasil menjadi kuat, tangguh, dan pantang menyerah.

Mendengarkaan kata hati itu penting, namun logika tetaplah harus dijalankan, jangan dibiarkan berhenti disuatu tempat, disuatu keadaan yang tidak menyenangkan. Kita harus berani mengambil resiko untuk meninggalkan, menjauh, hingga membuang kenangan, agar kita tetap hidup sebagai individu yang tidak mati rasa.

Sulit memang, tapi seperti saat kita membaca sebuah buku, terkadang terasa membosankan pada beberapa bab, hingga menimbulkan rasa ingin kembali ke halaman sebelumnya. Tapi itu salah, karena waktu terus bergerak ke depan bukan ke belakang. Jika kisah masih menuruti rasa untuk kembali, kita yang akan jatuh berulang kali, ditempat dan perasaan yang sama.

Lebih baik nikmati rasa bosan itu, karena di halaman selanjutnya kita tidak tahu sampai di bab berapa kita akan berjumpa lagi dengan kebahagiaan, kesenangan, dan alur yang lebih baik. Hingga pada akhirnya kita tidak merasa menyesal karena telah melepaskan sesuatu di awal, karena di akhir mungkin saja endingnya berkali lipat lebih baik.

Aku sepakat dengan kalimat ini, "Jangan membaca ulang sebuah buku untuk yang kedua kalinya, karena endingnya akan tetap sama."

Aku sepakat bahwa buku yang pernah kita baca, berulang kali dibaca pun endingnya akan tetap sama dan tidak akan pernah berubah sesuai dengan keinginan kita, kecuali kalau kita memang mau menulisnya sendiri. 

Aku pernah mengira bahwa semuanya sudah selesai, Tuhan tidak mempertemukanku lagi dengan tokoh penting dalam cerita yang pernah ku tulis. Rupanya aku salah, cerita yang terlalu cepat selesai, ternyata belum memiliki ending yang sempurna atau bahkan mungkin memang belum selesai. Pertanyaannya apakah aku harus menulis ulang cerita ini? atau cukup merevisinya dengan ending yang baru? 


Komentar

Postingan Populer