Tuhan, ini arahnya kemana?

"Tuhan, sebenarnya ini arahnya kemana? kenapa jalanku terasa semakin berat? dan kenapa aku semakin kehilangan banyak hal dalam hidupku? Aku kehilangan jati diri, aku kehilangan harapan, dan aku semakin kehilangan banyak cinta dan kasih."


"Rasanya, seperti berulang kali dipukul oleh kenyataan. Mau sebaik apapun kamu, akan tetap salah jika berada di tempat yang tidak tepat. Bahkan rumah pun bisa menjadi pengadilan palung buruk, saat rasa sakitmu tak dapat dimengerti dan ketika kesedihanmu hanya bisa dihakimi, tanpa dipahami."


"Bukan kali ini rasanya, pulang ke rumah seperti kembali masuk dalam neraka. Hanya sepintas senyum dan sapa, sisanya hanya penghakiman tanpa pembenaran. Sepertinya, aku memang ditakdirkan hanya untuk menjadi narapidana."


"Dulu sekali, aku pernah mengira menjadi anak perempuan satu-satunya adalah sebuah keberuntungan. Tapi ternyata salah, ini adalah sebuah ketidakberuntungan yang baru aku sadari. Aku terhimpit oleh ekspetasi, dicintai tanpa ketulusan yang abadi, aku tak ubahnya boneka yang harus bergerak semau pemiliknya, jika tidak aku hanya akan disalahkan."


"Jika orang lain mengatakan, cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya, itu benar. Tapi bukan sekedar itu, bagiku ayah adalah bagian dari luka terbesar dalam hidupku. Aku tak membencinya, aku hanya tidak tau definisi cinta menurutnya itu apa. Aku tidak tau bagaimana cara yang menurutnya benar untuk mengekspresikan apa itu cinta. Karena yang aku tau, caranya memeluk berbeda dari cara orang lain memeluk putrinya. Cinta yang ia berikan padaku, bukan berupa kalimat penuh kasih. Melainkan, kalimat jahat yang menbuatku retak tiap kali mendengarnya."


"Aku selalu meminta pada Tuhan, jika memang tidak keduanya, aku ingin memiliki salah satunya. Tapi sepertinya tidak bisa, karena bahkan untuk menggenggam salah satunya ternyata aku tidak bisa. Ayahku punya anak favoritnya sendiri, ibuku pun sama, beliau memiliki anak kesayangannya sendiri. Sementara aku, hanya berdiri sendiri ditengah pilihan yang sama sekali tak bisa ku pilih. Tubuhku terlalu jauh dari dekapan siapapun, dan tanganku terlalu jauh untuk menjangkau apapun."


"Jahat ya, aku seperti tersesat dibelantara, padahal aku punya rumah untuk pulang. Seandainya bisa, aku benar-benar ingin waktu berhenti sampai disini, jika kehadiranku tak pernah cukup untuk mereka, bukankah lebih baik jika aku bersandar pada kematian? bahkan saat kematian itu datang, mungkin aku akan merasa lebih lega. Karena setidaknya ada satu harapanku yang terwujud, dipeluk dengan kasih dan sayang walaupun untuk yang terakhir kalinya."

Komentar

Postingan Populer