Just Take Your Time, Dear

"Pantesan belum nikah, makanya jangan terlalu pilih-pilih." 

Padahal jodoh emang harus dipilih kan, karena seburuk-buruknya cowok tetap akan memilih perempuan baik-baik untuk jadi istri sekaligus ibu untuk anak-anaknya. Bahkan, seburuk-buruknya mertua pasti akan memilih calon menantu yang terbaik untuk anak dan cucunya. Lantas, dimana salahnya kalau kita sebagai perempuan juga ingin memilih pasangan yang terbaik? bukankah tonggak rumah tangga itu sebenarnya ada di laki-laki, kalau sampai yang kita pilih adalah laki-laki yang salah bagaimana rumah tangga akan bisa berdiri kokoh? 

Nggak ada yang namanya pasangan sempurna, karena menurutku hanya ada pasangan yang saling menerima. Kalau kita mengharapkan kesempurnaan apalagi dari pasangan, itu mustahil. Setiap manusia pasti punya sisi baik dan buruk, dan itu seimbang. Makanya, kita harus bisa mentoleransi kelebihan dan kekurangan tersebut. Proses penerimaan itulah yang nantinya, akan menjadikan hubungan tetap rekat sampai maut memisahkan. Kita ha boleh denial ya, karena faktanya tidak ada manusia tanpa cela. Itulah kenapa sangat penting untuk kita sering berkaca. Supaya kita tau bahwa diri kita ini ga sempurna dan yang menjadikan kesempurnaan itu ada adalah rasa syukur.

Kita milih pasangan itu boleh, boleh banget malah. Tapi yang jadi masalah adalah SDM kita apalagi orang tua yang senang sekali mencela dan mengasihani anak muda terutama perempuan yang belum menikah. Tanpa mereka sadari, bahwa dari sekian banyak pernikahan yang gagal itu disaksikan oleh kita yang belum menikah. Dari sekian banyak kasus, MBA, nikah dini, dan lain sebagainya, apakah keberhasilannya ditentukan oleh umur? tidak. Justru kematangan umur tanpa diimbangi dengan kesiapan mental dan finansial adalah investasi bodong yang menghancurkan masa depan generasi yang dihasilkan. Lahirlah anak-anak broken home, yang bingung dunia ini seperti apa. Karena semenjak mereka dilahirkan, dunia disekitar mereka sudah hancur berantakan. Lagi-lagi siapa yang harus bertanggungjawab? ya mereka sendiri. Sudah seperti ini, apakah masih tetap ada yang membenarkan menikah karena terdesak keadaan tanpa memikirkan kesiapan mental dan finansial? tetap ada. Karena inilah budaya yang hidup didalam masyarakat, sulit untuk keluar dari tradisi dan kekakuan. Padahal menikah di usia muda sudah tidak relevan di masa sekarang. 

Please ya, kalau kita masih ngerasa bersalah karena ga nikah-nikah terutama karena desakan orang tua dan lingkungan. Ingatlah baik-baik, "hidup ini milik kita, kalau kita masih diberi kesempatan untuk memilih, maka pilihlah yang terbaik. Salah memilih pasangan satu kali, hidup kita hancur berkali-kali. Jadi, jangan buru-buru. Biarkan mereka yang bangga dengan pencapaiannya, bahkan ketika itu lahir dari aib. Yang terpenting adalah kita tetap bisa menjaga diri, karena waktu setiap orang itu berbeda-beda. Menikah bukan garis finish, tapi garis start. Babak baru, perjalanan baru, itulah yang harus kita taklukkan nanti. So, persiapkan diri dengan baik. Just take your time, dear."

Komentar

Postingan Populer