Logika dan Kewarasan

Ternyata, berusaha menjadi 'anak baik' untuk orang tua toxic itu salah besar ya. 

Dari dulu aku sadar, keluarga ini toxic dan abnormal, tapi aku diam. Aku hanya melihat yang mereka lakukan, sholat, berdoa, bahkan ikut kajian, tapi dicampur dengan percaya hal-hal negatif yang tidak perlu aku sebutkan itu apa. Aku paham, bahwa didunia ini kita memang tidak akan pernah terlepas dari hal-hal seperti itu. Tapi kembali lagi ke kepercayaan masing-masing, kalau kita percaya Tuhan maka kita harus menyerahkan segalanya pada Tuhan, bukan pada sesama manusia yang katanya 'pintar'

Aneh, aku bahkan sangat heran, kok bisa ya ada orang tua yang berpikir datang ke orang 'pintar' untuk bikin anaknya patuh? Walaupun aku tidak sepenuhnya paham agama, tapi aku masih tau mana yang salah dan mana yang benar. Aku pikir masih ada orang 'normal' di rumah ini, ternyata tidak. Aku seakan berdiri sendiri, melawan pemikiran toxic dengan logika. 

Lucu ya, emang ada anak yang bertarung melawan orang tuanya sendiri? Ada dan mungkin aku akan menjadi salah satunya. Terserah mau dibilang apa, durhaka, pembangkang, atau apapun itu, yang jelas aku tidak akan pernah mengorbankan logikaku demi ketidakwarasan ini. 

Susah payah aku mempertahankan kewarasan, malah dikira kena 'gangguan' mereka yang toxic dan keras kepala, tapi aku yang dibilang 'berhati batu' - sungguh orang tua yang sangat sempurna untuk anak tidak tahu balas budi seperti aku. 

Tuhan, dalam setiap langkahku ada dosa dan doa yang ku bawa. Bahkan mungkin lebih banyak dosanya, tapi aku selalu percaya bahwa kekuatanmu lebih dahsyat, kehendak-Mu jauh lebih kuat dari kehendak orang tuaku. 77 kali aku mengiyakan, semoga diantara 77 kali itu ada satu saja kemenangan untukku. 

Tuhan, hanya kepada-Mu aku berlindung dan hanya KAU yang mampu melindungiku. 

Komentar

Postingan Populer