.

Bodohnya, dulu aku mengira menjadi anak perempuan satu-satunya itu menyenangkan. Rupanya aku salah besar, meskipun ga punya saudara sesama perempuan tapi aku tetap merasakan rasanya dibandingkan, dianggap bodoh, dianggap ga lebih baik dalam segala hal dengan saudara laki-laki. Kenyataan pahit yang sangat aku benci, tapi ga bisa dihindari. Ternyata memang benar, mau sebaik apapun kita jika bukan anak kesayangan tidak akan terlihat berharga. 

Aku berusaha untuk tidak membenci orang tuaku, walaupun yang mereka lakukan itu menyakitkan. Tapi diam dan sabarku, justru semakin menjadi bumerang. Mudah bagi mereka untuk mengatur, memaksa, bahkan menekan dari segala arah karena melihat aku tidak bisa apa-apa. Memang benar aku beban, tapi merawat anak yang diberikan Tuhan adalah tanggungjawab orang tua. Karena Tuhan menitipkan segala rejeki anak melalui orang tuanya. Tapi yang seharusnya aku dapatkan, aku tidak mendapatkannya secara penuh. Aku hanya dianggap sebagai anak yang tumbuh tidak sesuai ekspektasi, susah diatur, dan sekali lagi hanya menjadi beban orang tua. Ga apa-apa, tapi seandainya mereka bisa mengerti dengan baik bahwa menjadi seorang anak dan menjadi orang tua adalah sama-sama sebuah proses. Proses belajar yang seharusnya sama-sama dimaklumi, bukan hanya anak yang seharusnya dituntut untuk memahami keadaan orang tua, tapi orang tua juga harus melakukan yang sebaliknya. Karena bukanlah sebagai orang tua mereka juga lebih dulu menjadi seorang anak? lantas kenapa mereka tidak mau mengerti sulitnya menjadi anak yang selalu dituntut dari segala sisi? 

Aku tidak tahu akan seburuk apa dunia ini, jika setiap harinya semakin banyak anak yang dihancurkan mentalnya orang tuanya sendiri. Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung, berubah menjadi monster jahat yang mengancam. Lantas dimana anak bisa berlindung. Tuhan? sudah pasti Tuhan akan melindunginya, karena anak berasal dari Tuhan. Namun di dunia ini segala hal harus dihadapi sendiri. Tuhan tidak bisa langsung memeluk, Anak-anak yang terluka hanya bisa memeluk diri sendiri. Tapi jahatnya, orang tua jarang yang mau peduli. Nangis sambil teriak dibilang gila, padahal menahan diri sampai dada sesak hampir mau mati pun tidak dipedulikan. Orang tua yang banyak menuntut hanya bisa melihat cacatnya seorang anak, bukan kelebihannya. Padahal anak yang mati-matian bertahap hidup tanpa tempat bersandar sudah sangat luar biasa hebat. Seandainya semua orang tua tau, bahwa hidup ini mudah sekali di akhir. Tapi banyak anak yang memilih bertahan, hanya karena tahu bahwa bunuh diri itu dosa dan tidak dapat menyentuh surga. 

Begitupun dengan aku, anak perempuan yang sangat bingung akan hidup. Aku tidak bisa bersandar pada siapapun, karena aku tau mereka hanya ada untuk anak kesayangannya masing-masing. Kakakku dia mendapatkan cinta seorang ibu, adikku mendapatkan cinta dari ayah dan ibu. Sedangkan aku? Aku berdiri sendiri, aku yang paling dekat tapi sering tidak dipedulikan. Perasaanku diabaikan, keinginanku dikesampingkan, diatur harus ini dan itu, ditekan dari dua arah, bahkan apapun yang aku lakukan tidak bernilai apa-apa. Ga apa-apa, Tuhan adil kok. Kelak anak perempuan yang tidak beruntung ini, akan bersaksi di depan Tuhan, memperjuangkan keadilan untuk dirinya sendiri. Demi Allah, apa yang aku terima, apa yang aku rasakan, Tuhan akan mengerti. 

Menjadi orang tua memang sulit, tapi menjadi anak juga tidak kalah sulit. Anak membenci orang tua pasti ada alasannya, tapi orang tua membenci anak itu adalah kesalahan besar. Karena anak dididik oleh orang tua, jika suatu hari anak itu gagal jangan tanyakan kenapa padanya, tapi tanyakan pada orang tuanya, didikan seperti apa yang mereka berikan? jangan selalu anak yang dihakimi, disalahkan, dicaci karena tumbuh tidak sesuai ekspektasi. Apakah hanya orang tua yang berhak kecewa? tidak. Anak jauh lebih berhak kecewa pada orang tuanya, karena tidak pernah ada anak yang bisa memilih hendak memiliki orang tua seperti apa. Tapi orang tua selalu punya pilihan untuk mendidik anaknya dengan cara seperti apa. 

Komentar

Postingan Populer