Random Talk

"Kamu tuh aslinya suka sendirian ya?"

"Nggak kok! aku memang lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, di rumah, tanpa interaksi apapun dalam beberapa waktu. Tapi kadang, aku juga ngerasa sepi dan butuh komunikasi sama orang lain."

"Kamu ternyata pendiem banget ya?"

"Aku memang terlihat pendiam, saat aku belum merasa nyaman ngobrol sama orang lain. Tapi sejujurnya aku berisik dan banyak omong kok, sama orang yang udah berhasil bikin aku nyaman."

"Kamu kenapa sih terkesan nutup diri?"

"Aku nggak pernah sengaja menutup diri, aku cuma berusaha membentengi diri sendiri dari segala resiko yang menyakitkan hati. Ada kalanya aku pernah menaruh percaya pada orang lain, tapi saat orang itu memberiku luka, maka segala aksesnya ke hidupku akan otomatis tertutup."

"Kamu emang nggak ngerasa bosen ya tiap hari di rumah?"

"Bosen. Tapi dibandingkan bertemu para manusia muka dua, aku lebih baik diam di rumah, bergulat dengan tulisan-tulisan yang bisa membuat pikiranku lebih tenang. Karena yang aku cari bukan banyaknya manusia berisik yang membuat hari-hariku ramai, aku hanya butuh satu atau dua manusia yang bisa menjadi tempat bercerita, memahami, dan tidak mengintimindasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin aku jawab."

"Kamu nggak pengen bergaul seperti mereka?"

"Siapa bilang aku tidak bergaul? aku bisa menyesuaikan tempat, bekenalan dengan banyak orang, namun yang selemat dan masuk kriteria terkadang cuma satu dua. Itupun kalau masanya sudah habis, mereka akan sendirinya keluar dari hidupku."

"Berarti kalau tiba-tiba kamu ngilang dan nggak bisa dihubungi itu artinya apa?"

"Aku butuh waku untuk sendiri. Aku bukan manusia yang punya banyak energi untuk terus berinteraksi dengan banyak orang, ada kalanya aku ngerasa capek dan energiku terkuras habis oleh orang-orang disekitarku. Maka yang aku lakukan saat energi itu habis, aku cuma pengen diam, beberapa waktu tanpa komunikasi dengan siapapun, sampai proses recharge energy itu selesai."

"Memang selalu begitu ya siklus hidup kamu?"

"Iya. Karena aku bukan orang yang bisa terlalu deket sama orang lain. Justru kalau aku merasa interaksiku sudah berlebihan (terlalu dekat) dengan seseorang, kecenderuangku untuk menjauh itu lebih besar. Bukan karena aku benci, tapi karena aku butuh jarak. Aku lebih nyaman dengan pola interaksi yang tidak terlalu intens, untuk mencegah keterikatan emosional yang mendalam terhadap seseorang, yang pada akhirnya bisa menjadi boomerang itu diriku sendiri suatu saat nanti."

"Kalau suatu hari ada seseorang yang mau masuk ke kehidupan kamu sebagai pasangan gimana?"

"Silahkan! asalkan dia paham bahwa aku bukan orang yang mudah dipaksa, aku tidak suka keterikatan yang kaku. Mereka harus siap kalau tiba-tiba aku butuh menjaga jarak untuk beberapa waktu. Dan yang paling penting adalah bisa memahami emosi yang pendek-pendek (gampang berubah). Tapi, bukan berarti aku ingin selalu dimengerti, aku bisa kok memberikan timbal balik yang seimbang. Saat seseorang itu berusaha memahami emosiku, aku juga akan berusaha memahami emosinya. Satu lagi, aku sangat menghargai privasi. Aku berharap pasanganku nanti juga orang yang sangat menghargai privasi, kalau aku belum cerita jangan dulu ditanya, kasih aku waktu sampai aku siap cerita dengan sendirinya."

"Kamu berarti orang yang sulit terbuka ya?"

"Kalau aku nyaman, aku bisa cerita apapun. Tapi kalau aku nggak nyaman, nggak ada yang bisa maksa aku. Kalau aku udah mulai cerita duluan atau mau menjawab setelah ditanya, artinya aku nyaman ngobrol atau nyeritain masalahku ke kalian. Tapi kalau aku nggak mau memulai duluan dan nggak mau menjawab pertanyaan, artinya aku belum sepercaya itu ke kalian."

"Kalau disakitin sama orang reaksi kamu bakal gimana?"

"Menjauh, karena aku benci drama. Aku nggak suka bertele-tele, kalau semisal permasalahan itu butuh penjelasan, ya aku bakal simak penjelasannya. Tapi kalau aku merasa penjelasannya nggak masuk akal dan nggak sesuai, aku anggap semuanya selesai detik itu juga. Bukan berarti aku benci, karena aku nggak pernah menyimpan rasa benci lama-lama ke orang lain. Setelah beberapa waktu bisa memaafkan kok, tapi dengan catatan kalau aku udah nggak bisa lagi kembali dengan kepercayaan yang sama seperti sebelumnya."

"Kalau semisal udah punya pasangan dan pasangan kamu punya masa lalu gimana?"

"Ya nggak apa-apa. Toh masa lalu itu kan bagian dari hal-hal yang udah terjadi dan nggak bisa dikendalikan, jadi kalau misal dia punya masa lalu ya biarin aja. Berhubung aku tipe orang yang nggak suka ditanya-tanya soal masa lalu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Semisal aku yang datang belakangan dihidupnya dan dia punya mantan, aku nggak akan nyuruh atau maksa pasanganku untuk buang jauh-jauh kenangan sama mantannya itu. Karena setiap orang yang hadir dalam hidup kita itu, nggak ada yang bisa saling menggantikan, yang ada mereka justru punya tempat masing-masing. Aku nggak akan merasa terganggu dengan hal-hal yang sudah berlaly, selama masa lalunya itu nggak ngusik hidup kami yang udah berjalan."

"Berarti bisa dibilang kamu itu orang yang nggak akan bereaksi tanpa diganggu duluan ya?"

"Aku sangat mencintai ketenangan, kalau orang lain nggak nyenggol aku duluan, aku nggak akan kok cari-cari masalah yang bisa bikin engergiku habis. Proses recharge energy ku itu lama, jadi daripada aku buang-buang lebih baik aku hemat (simpan untuk hal-hal yang penting)"








Komentar

Postingan Populer